Menghadiri Pernikahan

Kami, bersama pengantin, berfoto bersama.

Sekolah sejatinya tempat mencari ilmu dan berbagi cerita bagi siapa saja yang ada didalam lingkungannya baik anak, guru, orang tua, penjaga lapangan dan keamanan.

Pun menghadiri kawan satu profesi, guru, yang tengah berbahagia adalah cerita yang patut diperhatikan dan menjadi kebiasaan. Karena banyak cerita yang bisa diambil dari peristiwa indah tersebut.


Hal yang mungkin tak terpikirkan yakni menuju lokasi. Meski setiap yang hadir bisa dipastikan sudah mendapat undangan resmi atau lewat jejaring sosial dan alamat lengkap, lagi-lagi alasan lokasi pernikahan menjadi masalah. Apakah terkait kebiasaan yang sering bertanya saat menemukan lokasi baru atau tidak biasa dilewati atau meyakinkah jalan menuju lokasi yang tak salah.

Lokasi. Karenanya tak sedikit guru atau orang tua suka menghadiri acara resepsi pernikahan bareng-bareng. Selain seru karena ramai, yang terpenting adalah beresiko kecil tersesat di jalan menuju lokasi. Dan biasanya selalu ada satu atau beberapa orang yang sudah tahu lokasi atau pernah berkunjung ke tempat yang dituju. Jadi tanpa embel-embel membawa surat undangan nikah yang berisi alamat dengan denah lengkap, tak masalah. Kan sudah ada petunjuk langsung. Jadi nikmati perjalanan sembari mengikuti kawan didepan yang sudah tahu. Dan manfaat lainnya yang tak kalah penting seperti mencapi lokasi lebih cepat, menghindari kemacetan yang parah melalui jalan alternatif.

Pakaian. Secara umum tak ada aturan pakaian apa yang harus dipakai kalau pun ada sebuah resepsi pernikahan sepertinya sangat minim alias jarang sekali terjadi. Lantas kenapa ya kalau ada seperti ini orang-orang sibuk berbicara pakaian. Sebenarnya bagi guru laki-laki atau para bapak, hal semacam itu tak jadi masalah. Ya standar saja kemeja pendek, panjang atau batik. Tapi ingat hal ini gak berlaku untuk para guru atau orang tua perempuan. Baginya pakaian bukan sekadar alat menutu diri dan nyaman digunakan untuk sebuah acara penting tetapi bukti atas identitas dan atau kekompakan karena keseragaman gaya atau corak.  Mulai dari warna pakaian, cocok tidaknya antara kerudung, pakaian dan sepatu atau sandal yang dikenakan, perhiasan, tas, dan sejumlah perangkat wajib lainnya seperti dandanan yang tak terlalu mencolok atau pilihan selera yang karena tren sedang hangat saat itu. Hal-hal kecil pun menjadi hal wajib, tapi yang jelas mereka pun tak lupa membawa angpau atau kado untuk pengantin. Karenanya satu sama lain saling berkaitan.

 

Kendaraan. Karena sudah tahu lokasi dan pakaian yang dikenakan tentu hal yang satu ini menjadi pertimbangan. Gak lucu kan kalo sudah dandan keren dan pakaian mengenakan kebaya, misalnya, tiba-tiba harus naik ojeg. Terus pakai pelindung kepala, helm. Ditambah jalan raya yang macet dengan asap debu yang luar biasa banyaknya nempel ke pipi. Jadilah wajah cantik berubah menjadi acak-acakan. Dikatakan penting alasan yang satu ini, karena bagaimana pun juga mempertimbangkan kendaraan adalah salah satu indikator keberhasilan mencapai lokasi. Apapun alasannya, membicarakan kendaraan dengan kawan merupakan ide yang baik. Pertimbangannya jika menghadiri resepsi pernikahan kawan atau kenalan dan ingin beramai-ramai sambil bercanda atau berbincang saat di jalan raya, pilihan seperti mobil adalah cocok. Apalagi berisi lebih dari belasan orang, menyewa bis. Dan kalau hanya ingin sebentar saja dan masih keperluan tentu naik motor lebih mudah dan cepat. Jadi balik lagi ke tujuan, apakah datang bareng-bareng sembari bercanda dengan kawan dan terhindar dari resiko debu, bau asap kendaraan dan tak terkena hujan meski macet melanda atau naik motor saja, cukup sendiri atau boncengan dan cepat sembari menelan debu, asap hitam, dan terkena hujan. Mau yang mana?

Bawa apa ya? Ga sedikit para undangan yang membicarakan yang satu ini terutama kaum hawa. Alasannya banyak. Ibu-ibu melihatnya jauh ke depan, katanya, dengan dalih apa yang mereka telah alami setelah resepsi pernikahan selesai. Perlu ini lah dan itu lah dan ke semuanya wajib ada apakah gelas, piring, rak piring, pemasak nasi, kompor, dan lainnya. Jadi tujuannya bagus ingin membantu pasangan yang tengah berbahagia jika kelak kehidupan baru telah dimulai. Tapi ada juga ibu-ibu yang punya pandangan seperti para bapak umumnya. Cukup cari amplop berukuran sedang ditulis atau tidak namanya terserah dan memasukkan sejumlah lembaran uang, jadi lah selesai. Tak lain dan tak bukan ingin membantu juga mereka (pengantin) untuk bekal ke depan, tanpa harus tahu dan pikir panjang kebutuhannya apa. Intinya hormati atas pilihan tersebut.

Hadir di nikahan apa resepsi saja? Yang satu ini biasanya kalau kita memungkinkan waktu luang dan memang berniat datang pas acara inti, nikahan pengantin. Tetapi kalau memang hanya ingin menghadiri acara resepsinya saja, tidak apa-apa. Selain waktu yang terbagi-bagi karena beberapa pekerjaan atau undangan lain dan pertimbangan lainnya maka pilihan ke-2 yang biasanya seringkali terjadi. Ada juga undangan yang datang sangat telat atau benar-benar akan berakhir. Ini seringkali terjadi karena memang jalan menuju lokasi yang jauh atau macet dan alasan lainnya karena menghadiri undangan lain juga yang waktu dan harinya sama dan ke-2 tersebut adalah sahabat kawan dekat kecuali memang beda kota, sangat tidak mungkin untuk dihadiri dalam waktu yang sama apalagi ke-2 nya melakukan resepsi di gedung dimana waktu sangat terbatas.

 

 

Pulangnya jalan dulu gak? Ini bukan cerita asal cerita tapi fakta. Dan terjadi pada kaum hawa alias ibu-ibu. Karena biasanya ada istilah sekalian. Apalagi lokasi resepsi pernikahan yang akan dikunjungi berada di sekitar atau dekat pusat perbelanjaan, pusat kuliner dan lainnya dimana menjadi daya tarik yang sayang untuk dilewatkan alias wajib mampir meski sebentar. Jangan heran kalau tiba-tiba kaum adam alias bapak-bapak lihat ibu-ibu ngeborong baju (katany diskon, hehehe), belanja daging dan sayuran, atau wajah penuh keringat karena abis wisata kuliner dulu (lapar lagi ya? Hehehe). Kalau pun ada bapak-bapak yang seperti ibu-ibu diatas kayaknya sangat sedikit alias jarang sekali. Alasannya sederhana saja, malas jalan dan ga mau bawa belanjaan yang ribet kayak ibu-ibu.

Janjian dan nunggu dimana? Media komunikasi bernama telepon genggam (baca: HP) adalah alat komunikasi yang tepat dan mudah dibawa ke mana-mana, saat ini. Tak heran apapun profesi dan kebiasaan orang dalam keseharian, tak lepas dari alat yang satu ini. Makanya jangan kaget jika seseorang panik dan tiba-tiba melamun sendiri karena gak bawa telepon genggam. Bicara tentang menghadiri acara resepsi saudara, sahabat, teman, atau kenalan, tak lupa membawa perangkat yang satu ini. Alasannya memudahkan untuk memantau jika sekiranya berangkat dari lokasi yang berbeda dan janjian di satu titik atau lokasi menuju tempat resepsi. Dan biasanya selalu ada tempat favorit untuk janjian. Misalnya saja sekolah, depan mall, pertigaan menuju lokasi, atau temnpat-tempat lain yang mudah dikenal dan mudah parkir dan gak membahayakan jiwa.

Nulis Buku Tamu, harus kah? Menurut anda bagaimana? Kalau saya sih nulis saja. Lagian nulis di daftar buku tamu, ga bikin sakit tangan alias pegal-pegal tangan karena nulis nama, alamat dan tanda tangan saja. Tetapi kalau disuruh nulis sampai menuhin buku tamu baru pegalnya kerasa. Hahaha. Sebenarnya ada manfaatnya juga jika kita mengisi kehadiran di buku tamu. Dengan begitu kita tahu siapa saja yang menghadiri resepsi pernikahan kita dan tidak. Tetapi buku tamu ini bukan indikator atau alasan tamu hadir. Karena tak semua mau dan senang mengisinya. Kalau tak percaya ya perhatikan saja dari awal sampai akhir (Kurang kerjaan ya? Hehehe).  Jadi mau nulis atau tidak ya gak masalah buat anda, para undangan. Lagian tidak ada yang melarang atau mewajibkan untuk mengisinya. Iya kan? Tapi kalo mau meledekin pagar bagus dan pagar ayu nya, boleh juga isi buku tamu.

 

Kolektor Suvenir? Kayaknya cocok juga istilah yang saya berikan untuk yang satu ini. Alasannya berkaitan dengan bagian diatas. Karena bagi mereka, para undangan, setelah mengisi buku tamu, secara otomatis dapat suvenir. Dan bisa dipastikan jika dalam satu minggu ada satu undangan berarti dalam satu bulan menghadiri 4x acara resepsi pernikahan (jika datang terus) dan dalam setahun terkumpul 48 suvenir. Dan kalo terus menerus dilakukan dan apik disimpan dalam lemari kaca, suatu hari kira-kira 10 tahun ke depan sudah 480 suvenir yang dikoleksi. Wow sungguh angka yang luar biasa besar. Dan masuk dalam 7 manusia terunik kolektor suvenir undangan di dunia versi on the spot Trans7 (hahaha). Makanya tak heran bagi siapa saja yang mengadakan resepsi pernikahan, hal yang satu ini tak lepas dari incaran. Namun perlu di ingat, suvenir tak selalu ada atau on the stock terus istilahnya. Selain karena terbatas jumlahnya ke-2 suka ada undangan yang minta 2 (Yang kayak begini nih yang harus dilarang). Kata orang-orang yang suka ngoleksi suvenir, alasannya banyak banget mulai dari oleh-oleh untuk orang rumah, bukti sudah datang, sumber ide buat yang belum menikah baik dirinya sendiri atau keluarganya, butuh karena memang kolektor, dan ikut-ikutan teman saja, ide bisnis bagi penjual suvenir (tetap aja ya dimana ada peluang usaha, disitu ada duit ngalir), atau pengen masuk TV seperti yang saya bilang tadi masuk on the spot Trans7 (weleh….weleh…). Hayo kira-kira yang mana ya alasannya?

Makan banyak gak? Tetap semangat ya bacanya. Karena sekarang ada cerita lain seputar para undangan yang hadir di sebuah resepsi pernikahan. Pernah suatu hari saat saya hendak mampir ke sebuah rumah makan, tiba-tiba kawan saya mencegatnya. Saya sempat heran, kenapa dicegat dan meyakinkan saya agar tak makan. Pikir saya, saat itu, beracun, ga enak, harga mahal, dan lain sebagainya. Akhirnya saya pun mendengarkan penjelasannya. Pak, sebentar lagi kan kita berangkat ke undangan, jadi makan disana aja. Wah ide bagus juga ya (hahaha). Tapi kalo ga kuat alias lapar tingkat dewa (kata anak-anak sekolah) ya sudah makan saja. Daripada nantinya mengecewakan. Makanannya ga enak dan ga salah juga kita berbagi rezeki dengan pedagang makanan. Makanya kalo diperhatikan pada saat acara, ada yang makannya sedikit, bisa jadi sudah makan sebelumnya atau malas saja makan banyak-banyak di tempat resepsi kecuali pecinta makanan baik berat maupun ringan, lain cerita. Ya saya sih cerita saja, benar atau tidaknya menurut anda sendiri kan bukan saya. Setuju?

Ya udah dulu ya kawan, cerita seputar menghadiri pernikahan ini. Lapar nech mau makan di acara resepsi pernikahan eh salah ya. Hehehe.

Semoga Bermanfaat.

Salam @Fahmi Awaludin

About fahmibogor

He is an English teacher, writer, communicator, cool man and do anything that he likes to do such as traveling, which is add new experience.
This entry was posted in Guru and tagged . Bookmark the permalink.